DEPERSONIFIKASI KARAKTER “LAUT” DALAM VISUAL STORYTELLING ANALISIS SEMIOTIKA SOSIAL FILM “THE MAN FROM THE SEA”

Main Article Content

Nabil Dwiana Nur Meiaoulidan
Nanang Ganda Prawira
Arief Johari

Abstract

Teknik storytelling dalam film mengalami banyak eksplorasi dari segi praktis. Penggunaan majas depersonifikasi menjadi salah satu cara yang dilakukan tidak hanya memperkaya cerita namun juga memberikan pengalaman penyampaian informasi dengan segala bentuk kompleksitasnya. Melalui analisis semiotika sosial terhadap film dengan judul "The Man from the Sea", diharapkan dapat memaparkan bagaimana penggunaan majas depersonifikasi dalam penceritaan di lakukan baik dari aspek teoritis maupun praktis. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan menggunakan teknik analisis semiotika sosial mencakup pemaknaan melalui representasi naratif dan representasi konseptual dari setiap sampel penelitian. Data diperoleh melalui observasi dan dokumentasi terhadap karya film dengan meninjau dan mendokumentasikan adegan secara purposive sampling. Hasil yang diperoleh, memberikan gambaran bagaimana proses visual storytelling dilakukan dengan penggunaan majas depersonifikasi secara implisit melalui penggambaran karakter Laut yang menjadi tokoh sentral sepanjang cerita. Diharapkan dengan hasil penelitian yang diperoleh tersebut dapat memberikan pemahaman dan kebaruan yang dapat dijadikan rujukan informasi baik secara teoritis maupun praktis dalam penciptaan atau produksi media film.

Article Details

How to Cite
Meiaoulidan, N., Prawira, N., & Johari, A. (2026). DEPERSONIFIKASI KARAKTER “LAUT” DALAM VISUAL STORYTELLING. Askara: Jurnal Seni Dan Desain, 4(2), 391-401. https://doi.org/10.20895/askara.v4i2.2036
Section
Articles

References

Arun, K. A. (2025). The Visual Storytelling The Art of Shooting Film. Seattle: Kochiartnow Amazon KDP.
Caputo, T. Steranko, J. and Ellison, H. (2003). Visual Storytelling: The Art and Technique. New York: Watson-Guptill Publications.
Darnita, J. S., Pasaribu, L. U., Seifana, N., Dalimunthe, S. R., & Pu, S. A. (2024). Hukum Internasional. Guepedia.
Dewi, N. I. K., Saraswati, A., & Furqon, A. N. F. (2022). Penerapan Pola Komunikasi Soft Selling melalui Storytelling dalam Film Iklan “Metamorfodream”. ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia, 8(02), 231-245.
Eriyanto. (2019). Metode Komunikasi Visual – Dasar-dasar dan Aplikasi Semiotika Sosial untuk Membedah Teks Gambar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Jewitt, C., & Oyama, R. (2004). Visual meaning: a social semiotic approach. dalam T. Van Leeuwen, C. Jewitt (Eds.) Visual meaning: A social semiotic approach. 134-156. SAGE Publications Ltd, https://doi.org/10.4135/9780857020062.n7
Kress, G. (2003). Literacy in New Media Age. London: Routledge.
Laksono, P.T., Ratnasari, S. A. D., Agustina, R. D. (2021). Cakrawala Indonesia Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing Tingkat Mahir. Malang: Unisma Press.
Leeuwen, T.V. (2005). Introducing Social Semiotics. New York: Routledge.
Meindrasari, D. K., & Nurhayati, L. (2019). Makna Batik Sidomukti Solo Ditinjau Dari Semiotika Sosial Theo Van Leeuwen. WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi, 18(1), 57-67.
Tabrani, P. (2009). Wimba, asal usul dan peruntukkannya. WIMBA-Jurnal Komunikasi Visual, 1(1), 1-7.
Willems, L. (1970). “Two Lolita’s: Ambiguous Morality in Nabokov and Lyne.” Utrecht: University Student Theses Repository.